Filed under: Uncategorized
Keris, Sang Istri KeduaSALAH satu hasil cipta karsa dan karya adiluhung bangsa Indonesia adalah keris. Sebagai warisan budaya, berbagai corak atau jenis keris juga dapat kita jumpai di seluruh pelosok nusantara. Bahkan, bagi sebagian masyarakat, keris tidak hanya memiliki kekuatan isoteri, tetapi juga eksoteri.
![]() |
| SEORANG empu (pembuat keris) muda tengah menatah keris, saat melakukan demo membuat keris di Pameran Keris Benteng Vredeburg Yogyakarta, Rabu (15/3). Untuk satu bilah keris diperlukan waktu pembuatan sedikitnya dua bulan.*NURHANDOKO/”PR” |
Namun demikian, ada pula yang mengabaikan kedua hal itu, dan lebih pada kecintaan akan kandungan nilai historis. Alasannya, dengan melacak sejarah keris, akan dapat menguak sejarah masa lampau, saat keris itu dibuat.
Ibarat seorang tentara yang menganggap senjata api sebagai istri kedua, bagi penggemar keris atau tosan aji juga akan menganggap barang tersebut istri kedua yang juga harus selalu mendapat perhatian. Artinya, adanya aktivitas untuk merawat dengan baik.
Dalam perkembangan budaya masyarakat Jawa, keris dipercaya sebagai salah satu tolok ukur serta perlambang laki-laki sejati. Terlebih dengan munculnya pandangan bahwa kesempurnaan hidup seorang laki-laki harus memenuhi lima unsur, yakni curigo (keris/senjata), turonggo (kuda/kendaraan), wismo (rumah), wanito (istri), dan kukilo (burung/hiburan).
Misalnya soal senjata, apabila dikaitkan dengan kondisi sekarang, bisa diartikan dengan kekuasaan, pangkat, derajat. Kadang kala, seorang baru dikatakan laki-laki apabila memiliki kendaraan mewah, rumah besar berikut perabotan, dan istri cantik. Meski secara materi telah tercukupi, ternyata masih belum bisa memuaskan apabila kebutuhan rohani, dalam hal ini hiburan belum terpenuhi.
Melongok sejarah keris, ibaratnya kita kembali kekejayaan masa lampau. Bahkan dari sebilah keris, juga dapat diperkirakan pada masa kerajaan apa ketika senjata itu dibuat. Menurut cerita, semakin tua usia keris, bentuknya semakin sederhana. Hal itu sebenarnya juga bisa dimaklumi karena peradabannya yang masih sangat sederhana.
**
SEORANG empu sebelum membuat keris, juga harus melakukan berbagi “laku” atau ritual khusus, misalnya berpuasa 40 hari. Makna secara filosofis, jika hendak melakukan pekerjaan harus bersih, tidak hanya secara fisik, tetapi juga psikis.
Untuk membuat keris, tidak hanya dibutuhkan satu campuran logam, tetapi lebih dari tiga jenis, misalnya besi biasa, baja, nikel, emas, termasuk ada keris yang dibuat dengan bahan baku batu meteor.
Percampuran logam serta banyaknya lipatan (logam disusun, kemudian dilipat-lipat, mulai lipatan enam, 12, 18, 36 dan seterusnya disesuaikan dengan kebutuhan) akan menentukan “pamor” yang diinginkan.
“Saya sudah tiga tahun ikut empu belajar membuat keris, tetapi sampai saat ini terasa masih jauh dari kesempurnaan. Mungkin kalau sekadar membuat fisik, sudah bisa, tetapi agar keris yang dibuat memiliki ’cahaya’, saya masih harus banyak belajar, tidak hanya secara fisik tetapi juga pengendapan rasa. Tidak bisa sembarang melipat logam, perbandingan logam, serta pemanasannya berapa lama. Bisa jadi, bahan baku yang semula misalnya lima kilogram, setelah menjadi keris hanya seperempat kilogram atau bahkan kurang dari itu,” tutur Agus asal Solo, saat kegiatan Pameran Keris, di Benteng Vredeburg, Yogyakarta, pekan lalu.
Berbagai sumber menyebutkan, keris sarat dengan makna filosofi. Paling tidak salah satunya ada pemahaman tentang sangkan paraning dumadi, yakni asal manusia lahir dan ke mana tujuan hidupnya.
Hal itu secara simbolis dapat dilihat dari “dapur” yang terdapat dalam keris, mulai keris dapur Pinarak dapur Sengkelat. Untuk dapur Pinarak, dapat diasosiasikan bahwa kehidupan manusia berumur pendek, atau hidup itu ibarat mampir ngombe. Keris dengan luk (lekukan) satu, itu dapat dimaknai bahwa dalam kehidupan memiliki kewajiban mengejar sesuatu yang berisi, tidak sia-sia. Keris dengan luk tiga atau Jangkung, luk Lima atau Pandawa. Bisa dimaknai manusia dilahirkan dengan lima pancaindra yang harus selalu diasah agar selalu dalam kebaikan.(Nurhandoko/”PR”)***
Filed under: Uncategorized
Meluruskan Sejarah
Saat ini, di kalangan masyarakat Jawa, terutama di daerahku (Demak) dan kawasan pantai utara lainnya, nama Mahesa Jenar dikenal sebagai seorang prajurit dari kerajaan Demak, yang melanglang buana mencari keris pusaka Naga Sasra dan Sabuk Inten yang hilang dari perbendaharaan kerajaan Demak.
Mahesa Jenar dianggap sebagai pendekar yang benar-benar ada, dan telah membantu proses transisi pemerintahan kerajaan dari Demak ke Pajang.
Padahal, Mahesa Jenar hanyalah tokoh rekaan (fiktif) dari penulis silat Singgih Hadi Mintardja, dalam cerita Naga Sasra dan Sabuk Inten. (rangkaian cerita dapat didownload di sini)
Meledaknya pemuatan cerita ini di radio, novel, TVRI, dan sebagi lakon dalam setiap pementasan kethoprak, menjadikan cerita ini begitu merasuk ke dalam masyarakat Jawa, sampai-sampai banyak yang yakin bahwa itu adalah cerita nyata.
Detail cerita yang meyakinkan, hubungan sejarah dan lokasi yang benar-benar ada, nama-nama tokoh yang terkenal, bahkan senjata dan aji-aji (ilmu kesaktian) yang benar-benar ada, membuat cerita ini diterima sejajar dengan cerita sejarah.
Aku sendiri sejak awal juga menganggap bahwa Mahesa Jenar itu benar ada, meskipun tidak begitu yakin. Silakan lihat di Perjalanan Hidup Mahesa Jenar.
Nama supporter sepak bola dari Semarang juga menamakan diri Mahesa Jenar, sedangkan nama stadion sepak bola di Solo menggunakan nama Manahan, nama samaran Mahesa Jenar saat sembunyi dari kejaran pasukan Lembu Sora.
Juga terkenal sebuah sumpah dari Mahesa Jenar: “Aku ora bali ing kraton Demak Bintoro kalamun durung biso nggowo keris Nogo Sosro lan Sabuk Inten” (Aku tidak kembali ke kerajaan Demak Bintoro kalau belum bisa membawa keris Naga Sasra dan Sabuk Inten)
Sumpah itu aku jadikan sebagai judul blog ini.
Posisi S.H. Mintardja sebagai pegawa negeri dalam bidang kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Yogyakarta, tidak mengherankan kalau beliau mengetahui banyak tentang sejarah kerajaan Demak dan yang terkait dengannya, misalnya Majapahit, Mataram dan Pajang.
Lalu, anggapan masyarakat bahwa Mahesa Jenar itu benar ada, memang tidak ada salahnya. Namun bisa saja hal tersebut suatu saat akan membingungkan sejarah.
Misalnya sudah beberapa kali orang menanyakan padaku: “Apa hubungannya Mahesa Jenar dengan Syeh Siti Jenar?”
Ya jelas gak ada hubungannya. Yang satu nyata dan satunya lagi fiktif 
Aku mempergunakan nama Mahesa Jenar sebagai nama domain ini, karena itu adalah tokoh favoritku. Memiliki sifat dan pandangan hidup seperti yang sebagaimana aku inginkan.
Sumber:
KEMBALINYA MAHESA JENAR
SH Mintardja Telah Tiada
